Dari Kebiasaan Membuang Sampah Menjadi Kebiasaan Memilah: Transformasi Perilaku Siswa SDN 2 Geresik

Dari Kebiasaan Membuang Sampah Menjadi Kebiasaan Memilah: Transformasi Perilaku Siswa SDN 2 Geresik

Project Based Learning “Transformation Behaviour of Waste Segregation in Primary School” melalui Kolaborasi Yayasan Baihaqi Insan Madani dan SDN 2 Geresik

Tasikmalaya, Jawa Barat — Januari–Mei 2026

Bagaimana jika kebiasaan memilah sampah tidak hanya diajarkan melalui teori, tetapi dilakukan dengan cara yang menyenangkan dan melibatkan siswa secara langsung?

Pertanyaan tersebut menjadi dasar pelaksanaan program “Transformation Behaviour of Waste Segregation in Primary School”, sebuah kegiatan pembelajaran berbasis proyek yang dilaksanakan melalui kolaborasi Yayasan Baihaqi Insan Madani dan SDN 2 Geresik, Jamanis, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Program ini dirancang untuk mendorong perubahan perilaku siswa dari kebiasaan membuang sampah secara tercampur menjadi kebiasaan memilah sampah berdasarkan jenisnya. Kegiatan berlangsung selama Januari hingga Mei 2026 dengan melibatkan siswa, guru, dan warga sekolah.

Mengapa Memilah Sampah?

Sampah merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari, termasuk di lingkungan sekolah. Namun, pengetahuan tentang pentingnya membuang sampah pada tempatnya belum selalu diikuti dengan kemampuan memilah sampah dengan benar.

Hasil pengamatan awal di SDN 2 Geresik menunjukkan masih adanya sampah organik, plastik, dan kertas yang tercampur. Kondisi ini menunjukkan bahwa diperlukan pendekatan pembelajaran yang tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga membantu siswa membangun kebiasaan baru melalui pengalaman langsung. Melalui pendekatan Project Based Learning (PjBL), siswa diajak untuk mengenali masalah sampah di lingkungan sekolah, memahami jenis-jenis sampah, menggunakan fasilitas pemilahan, serta terlibat dalam kampanye dan pembiasaan memilah sampah.

Tiga Warna untuk Memudahkan Siswa Memilah

Salah satu inovasi utama dalam program ini adalah penggunaan tempat sampah berwarna sebagai petunjuk visual.

Siswa diperkenalkan dengan tiga kategori:

🟢 Hijau – Sampah Organik
Contohnya sisa makanan, daun, kulit buah, dan rumput.

🟡 Kuning – Sampah Anorganik/Plastik
Contohnya gelas plastik, sedotan, bungkus makanan, dan material plastik lainnya.

🔵 Biru – Sampah Kertas
Contohnya kertas dan kardus. Penggunaan warna membuat siswa lebih mudah mengenali tempat pembuangan yang sesuai. Dengan demikian, pemilahan sampah menjadi aktivitas yang sederhana dan mudah dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

YUMISA: Belajar Memilah Sampah dengan Lagu

Bagaimana membuat anak-anak tertarik belajar memilah sampah?

Jawabannya adalah YUMISA – “Yuk Milah Sampah”.

Pesan mengenai pemilahan sampah dikemas dalam bentuk lagu dan gerakan yang menarik bagi anak-anak. Pendekatan audio dan kinestetik ini membuat proses belajar menjadi lebih menyenangkan sekaligus membantu siswa mengingat kategori sampah. Lagu YUMISA kemudian digunakan secara berulang sebagai bagian dari proses pembiasaan. Dengan cara ini, pesan tentang pemilahan sampah tidak hanya didengar, tetapi juga dinyanyikan dan dipraktikkan bersama.

Teman Sebaya sebagai Agen Perubahan

Perubahan perilaku tidak hanya datang dari guru.

Dalam program ini, teman sebaya atau peer team dilibatkan untuk memberikan sosialisasi dan pengingat kepada siswa lainnya. Pesan yang disampaikan oleh teman sebaya diharapkan lebih mudah diterima karena menggunakan bahasa dan pendekatan yang dekat dengan kehidupan siswa. Melalui kegiatan tersebut, siswa tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga mulai berperan sebagai agent of change di lingkungan sekolah.

Hasilnya: Ketepatan Pemilahan Mencapai 99,5%

Perubahan perilaku dalam program ini tidak hanya diamati secara kualitatif, tetapi juga dilakukan melalui waste audit atau pemantauan isi tempat sampah secara berkala. Pada tahap awal, tingkat ketepatan pemilahan secara keseluruhan tercatat 82,3%. Masih ditemukan berbagai kesalahan dalam menentukan kategori sampah.

Setelah dilakukan intervensi melalui tempat sampah berwarna, sosialisasi, serta penguatan menggunakan lagu dan gerakan YUMISA, terjadi peningkatan yang sangat signifikan (99,5%)

sampah berhasil dipilah sesuai kategori pada tahap intervensi kedua. Hasil tersebut menunjukkan bahwa kombinasi antara fasilitas yang mudah dikenali, pembelajaran yang menyenangkan, dan penguatan melalui teman sebaya dapat membantu membangun kebiasaan baru dalam memilah sampah.

Bukan Sekadar Memilah Sampah

Program ini tidak berhenti pada aktivitas memasukkan sampah ke tempat yang sesuai.

Pemilahan merupakan langkah pertama dalam pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan. Ketika sampah sudah dipisahkan sejak dari sumbernya, proses berikutnya seperti pengurangan, penggunaan kembali, dan daur ulang akan menjadi lebih mudah dilakukan. Karena itu, program ini diharapkan dapat terus dikembangkan menuju kegiatan pengelolaan sampah berdasarkan kategorinya. Sampah organik, misalnya, dapat diarahkan untuk pengolahan lebih lanjut, sementara sampah anorganik dan kertas dapat dikumpulkan untuk dimanfaatkan kembali atau didaur ulang.

Membangun Kebiasaan, Membentuk Karakter

Lebih dari sekadar program kebersihan, “Transformation Behaviour of Waste Segregation in Primary School” merupakan upaya membangun karakter peduli lingkungan sejak usia dini.

Melalui kegiatan ini, siswa belajar bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tanggung jawab guru atau petugas kebersihan. Setiap siswa memiliki peran, dimulai dari tindakan sederhana: mengenali sampah, memilih tempat yang tepat, dan membuangnya dengan benar. Kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi bagian dari budaya sekolah.

Membangun Kebiasaan, Membentuk Karakter

Kolaborasi Yayasan Baihaqi Insan Madani dan SDN 2 Geresik menunjukkan bahwa perubahan perilaku dapat dibangun melalui kerja sama antara sekolah, siswa, guru, dan mitra pendidikan.

Keberhasilan mencapai tingkat ketepatan pemilahan 99,5% menjadi salah satu capaian penting dari program ini. Namun, capaian tersebut bukanlah akhir.

Langkah selanjutnya adalah mempertahankan kebiasaan tersebut dan mengembangkan pemilahan menjadi sistem pengelolaan sampah yang lebih lengkap melalui prinsip Reduce, Reuse, dan Recycle (3R).

Pada akhirnya, tujuan terbesar program ini bukan sekadar membuat tempat sampah menjadi lebih teratur, tetapi membentuk generasi yang memiliki kesadaran dan kebiasaan untuk menjaga lingkungan.

YUMISA — Yuk Milah Sampah!Mulai dari kita. Mulai dari sekolah. Mulai dari sekarang.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *